Soekry

Januari, 31-2009

Ibadahnya Sang Ratu Cinta

Filed under: Keseharian Q — soekry @ 12:24 pm
Cinta itu adalah bahasa yang indah. Setiap saat, selalu saja ingin bersama orang yang kita cintai, memuji dan selalu mengaguminya. Cinta juga bisa menjadi sebuah alasan bagi seorang hamba untuk beribadah kepada Allah, seperti halnya cinta Robbiah Al Adwa’iah kepada Allah SWT. Meski Allah telah menyediakan banyak pahala kepada hambanya, ibadah Robbiah tidak untuk itu. Tidak juga karena mengharap syurga atau takut kepada neraka.
Suatu hari ia berdo’a, “Ya Allah, jika aku menyembahmu karena takut kepada neraka, bakarlah aku di dalam neraka. Dan jika aku menyembahmu karena mengharap syurga, campakkanlah aku dari dalam syurga. Tetapi jika aku menyembahmu hanya karena engkau semata, janganlah engkau enggan memperlihatkan wajahmu yang abadi kepadaku.”
Begitulah tingkatan keikhlasan Robbiah yang jarang dimiliki manusia pada umumnya. Rabbi’ah, sang ratu cinta. Seorang sufi perempuan dari Bashrah. Terlahir dari keluarga yang sangat miskin, meski pada saat itu, Bashrah sedang bergelimang kemakmuran. Saat sang ibu berjuang melahirkannya tak seorang pun menolong. Sementara ayahnya sedang berusaha mencari bantuan kepada tetangga-tetangganya. Malam sudah larut. Para tetangga sudah terlelap. Ayahnya pulang tanpa hasil, dan sebenarnya ayahnya hanya ingin meminjam pelita untuk menerangi istrinya. Kelahiran Rabbiah tidak mengubah nasib keluarganya. Sekuat tenaga ayahnya berusaha dan memasrahkan semua kepada Allah SWT, saat kesulitan melanda Bashrah karena dilanda bencana kelaparan, keluarga Rabbiah tetap saja menjadi sasaran kekisruhan. Seorang penjahat menculik Rabbiah, kemudian dijual di pasar budak dengan harga yang murah. Lalu ada seorang saudagar membeli dan memberinya pekerjaan yang berat. Akan tetapi, justru karena penderitaan-penderitaan itu, semuanya itu membuatnya dekat kepada Allah SWT. Dalam kesibukannya bekerja, ia tetap menjalankan puasa. Di malam hari ia banyak habiskan waktu dengan bermujahadah kepada Allah. Hingga sampai suatu tingkat, ibadahnya membawa kedekatan kepada Allah SWT. Kedekatan kemudian berubah menjadi kerinduan yang mengantarkan kepada cinta yang benar-benar cinta kepada Allah SWT, karena Aku adalah milik-Nya, Aku hidup di bawah naungan-Nya, Aku lepaskan segala sesuatu yang telah kuperoleh kepada-Nya, Aku mengenal-Nya, sebab Aku menghayati.
Di suatu malam yang senyap, dalam kerinduan yang teramat sangat. Ia bersujud dan berdo’a, “Ya Allah, apapun yang akan engkau karuniakan kepadaku di dunia ini, berikanlah kepada musuh-musuhMU, dan apapun yang akan engkau karuniakan kepadaku di akhirat nanti, berikanlah kepada sahabat-sahabatMu, karena engkau sendiri adalah cukup bagiku.”
Itulah, ibadahnya sang ratu cinta. Rabbiah Al Ad’wiah.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: